Hati-hati Jaga Hati

19 11 2010

Menjaga hati..

Ucapan yang tak semudah pengamalannya

 

Hati-lah..

Yang dikatakan dalam sabda Rasul

Menjadi penentu baik tidaknya seluruh tubuh

 

Ia pemegang kendali,

Jika baik maka seluruhnya baik

Jika buruk turut buruklah semuanya

 

Ajaib..

Sekecil itu,

Menjadi tempat bersemayam semua rasa

 

Cinta dan kasih sayang,

kebencian dan kemarahan,

ketakutan dan harapan,

keberanian dan kekuatan,

kesenangan dan kesedihan..

 

Membawa hati ke dua arah,

Mengajaknya tenang,

atau mengoyaknya hingga gelisah..

 

Hati..

Adakah pemiliknya?

Ya, pemilik hati adalah Pencipta-nya

Ia ada di sini karena Allah menitipkannya..

 

Adalah niscaya, untuk menjaganya..

Karena hanya Dia Yang Berhak atas semua rasa..

 

Maka,

Ketika hati terkoyak dan teralih gelisah

Pasti ada yang menyeretnya menjauh

Hawa nafsu mencoba mengganggu

Prirotas orientasi untuk Allah..

 

Kembalilah,

Jangan biarkan ia pergi..

 

Hati bagai cermin yang memandu perjalanan

Cermin yang hilang arah, jauh dari penjagaan

Tidak akan memantulkan bayangan yang jernih, bukan?

 

Hati..

Diri ini tak kan sanggup menjaganya..

 

Hanya satu yang diharapkan,

Kasih sayang Allah yang kan menjaganya..

Agar tetap dalam kebenaran,

dan tak pernah berpaling..

 

Hingga cermin yang bersih,

Menembuskan cahaya hidayah yang menerangi,

tiap langkah hidup yang dijalani..

 

Semoga,

Allah menjaganya..

Hati kita semua..

 

Berharap,

Ketika semua rasa disandarkan karena-Nya,

Ketenangan akan hadir, atas izin-Nya..

 

-191110, lagi, berdamai dengan perasaan-

 

 

Iklan




Kembali Melabuh..

31 10 2010

Kadang aku tidak tahu..

Mengapa ketika gelisah,

Hati ini tidak kembali kepada-Mu..

 

Kadang aku tidak mengerti..

Mengapa ketika gersang,

Hati ini tidak mencari kesejukan,

dengan melantunkan ayat-ayat-Mu..

 

Ampuni ya Rabb..

 

Ketika tersadar,

Kutahu Engkau Maha Dekat..

Engkau selalu ada..

 

Segenap Kasih Sayang,

dan luasnya Nikmat-Mu..

Membersamai walau tanpa kuminta..

 

Yaa Rohman, Yaa Rohim..

Ijinkan aku kembali,

Menuju ketenangan yang Kau janjikan..

 

Kepada siapapun,

Yang selalu mengingati-Mu..

 

 

(‘awal’ dari ‘Titik Kembali’, rewritten at 311010)





” Saya Ingin… “

31 08 2010

Semangat mahasiswa..

25.08.09 Sebenarnya hari ini cukup melelahkan.. Setelah dua jam mendampingi tutorial yang cukup menguras tenaga (karena topiknya di luar kebiasaan, he..biasanya klinis penyakit diganti kesehatan masyarakat 😀 Jamkesmas, asuransi, JPKM..hoho..), baru ingat kalau jam 13 mengisi lagi pertemuan pertama blok Introduksi.. Membayangkan.. bersama mahasiswa baru angkatan 2010, dan materinya ice breaking ta’aruf! Wah2, harus banyak cuap2 ni.. Tidak kusangkal, bahwa yang dibayangkan pertama kali adalah : capek..

Tapi ini amanah:) Yup, bismillah.. jalani saja..

Dan lagi-lagi.. di luar dugaan..

Karena sejak pertama kali masuk ruangan, semuanya terasa berbeda. Disambut dengan tatapan antusias mereka, dan wajah-wajah yang jarang kutemui pada pertemuan-pertemuan biasanya.. Semuanya memancarkan semangat:) Hmm.. Jadi nyadar kalo tadi sudah terlalu cepat men-judge sesuatu..

Karena lalu semuanya menyenangkan^^ mulai dari main ‘silent act’ (semua mahasiswa gak boleh ngomong sambil duduk urut berdasar abjad kota tempat kelahiran) sampai main memperkenalkan teman sendiri yang duduk di sebelah kiri dan kanannya. Ada hukuman untuk yang salah memperkenalkan, dapet hukuman bercerita 😀

Ternyata ini yang seru.. Ketika kemudian salah satu mahasiswa ‘ditodong’ cerita :

” Apa motivasi masuk FK UII?”

Bersemangat, meluap-luap, dengan suara tegas dan lantang, mahasiswa laki-laki itu menjawab :

” Saya ingin jadi dokter muslim yang hebat. Saya gak boleh mengecewakan orang tua saya yang sudah membiayai saya sekolah di sini”

Deg.. Subhanallah.. Terharu..

Satu, karena cita-cita yang diungkapkannya adalah cita-cita besar. Kedua, karena ada ketulusan berbakti untuk mempersembahkan yang terbaik kepada orang tuanya dalam kata-kata yang diucapkannya..

Tentang cita-cita..

Tidak ada yang bisa mencegah seseorang bermimpi dan bercita-cita. Semuanya gratis. Pengin mimpi ke bulan? Boleh. Atau jadi seorang superhero yang dielukan banyak orang? Boleh-boleh saja.. Semuanya boleh memiliki mimpi-mimpi besar.

Namun tidak cukup hanya dengan bermimpi dan bercita-cita. Bagaimana berusaha menjalani ke arah cita-cita itu yang jadi poin penentu.

Ketika pada kesempatan-kesempatan berikutnya kulihat mahasiswa itu cukup bersusah payah untuk berkomunikasi dalam diskusi tutorial -sering masih salah mengucapkan beberapa kata sulit- dan berusaha untuk aktif, kusadari jalannya masih panjang.

‘Dokter muslim yang hebat’ bukan gelar ‘hadiah’ yang jatuh dari langit dan butuh proses yang berkelanjutan.. Sebutan ‘dokter’ sendiri membutuhkan perjuangan untuk mencapainya, apalagi ditambah gelar ‘dokter muslim’..

Hmm, perjalanan untuknya baru saja akan dimulai..

Merenung..

Lalu bagaimana denganku? Seketika semuanya berbalik memantul ke diri. Perasaan sekarang udah jadi dokter. Tapi apakah dulu aku sesemangat adik mahasiswa itu ketika masuk di tahun pertama? Hmm 😦 Pun dengan semua proses yang sudah dijalani saat ini, dengan cita-cita besar yang kutulis di buku kelulusan, rasa-rasanya ingin mengulang dan memperbaiki apa yang kurang di masa lalu.. Seandainya waktu itu bisa setiap saat semangat belajar.. Seandainya saat langka di masa-masa koas itu bisa dimanfaatkan dengan lebih lagi.. Ah, sudah sudah, cukup.. Tak baik berandai-andai..

Refleksikan saja dengan sekarang. Setahun ini apa yang sudah diperbuat? Ketika kemudian menuntut ilmu di perantauan selama 5,5 tahun alhamdulillah telah berhasil dijalani, dan sudah setahun ini menjalankan profesi, apa yang sudah dihasilkan?

Alhamdulillah..

Terima kasih dek.. Satu pernyataan darimu cukup memberi kesempatan yang luas bagiku untuk merenungkan.

Bahwa berusaha menuju cita-cita besar tidak terhenti hanya dengan sudah mendapatkan gelar. Long life learner, bukankah begitu?

Tidak ada kata terlambat untuk memulai. Teringat dengan sebuah pernyataan : Kalau kita mau, tidak ada yang mampu menghentikan kita. Ya, motivasi internal sangatlah krusial. Karena suatu keterpaksaan tidak akan melahirkan keberhasilan. Justru usaha walaupun sedikit-sedikit tapi berasal dari hati akan lebih berarti. Benarlah apa yang diucapkan oleh Aa’ Gym tentang perubahan : ‘mulai dari diri sendiri, mulai dari hal yang kecil dan mulai saat ini’.. Tidak akan ada yang bergerak ke arah yang lebih baik jika tidak dimulai dengan mengalahkan kemalasan diri sendiri.

Tentang ketulusan..

Sungguh beruntung orang tuamu dek, dititipi seorang anak yang memegang semangat berbakti. Apalagi di agama Islam, peran anak yang sholeh sangat besar. Bahkan termasuk salah satu ‘tabungan’ amal yang tidak akan terputus pahalanya..

Ketulusan yang melahirkan pengorbanan itulah yang bermakna. Berharap suatu saat nanti mampu melukiskan senyum di wajah kedua orang tua tersayang. Kebahagiaan adalah dengan memberi bukan? Dan sungguh anugrah yang besar jika nanti hal itu dapat terwujud..

Berbakti dengan membahagiakan kedua orangtua, yang berbuat baik kepada keduanya langsung difirmankan Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam al Qur’an, sungguh, merupakan suatu amal yang besar..

Tentang amanah..

Bukan suatu kebetulan ketika tersadar bahwa saat ini ternyata aku dititipi peran untuk turut mewujudkan cita-cita besarmu itu.. Bagaimana membuatmu terus bersemangat dalam meniti jalan panjang ke depan, bagaimana membantumu menjalani proses untuk selalu ke arah yang lebih baik menuju mimpi itu.. Pe eR besar..

Hmm,

Jika pada akhirnya kutemukan pelajaran berharga, sungguh salah menilai dangkal sejak awal. Karena selalu dapat kutemukan semangat tersendiri membersamai mereka.

Segala Puji bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala, yang telah mengaruniakan hikmah dan pemahaman..

Mari sama-sama belajar bahwa ternyata, Allah selalu memberikan yang terbaik untuk kita..

Kadang di awal mata hati kita seolah tertutup, namun teruslah berharap agar selalu dapat menemukan pintu-pintu hikmah yang berbuah manis pada akhirnya.

– 21 Ramadhan 1431 H, 310810, menemukan kebersamaan baru yang berharga :)-





Lagi, Hati Bicara Cinta..

26 08 2010

Bertuturlah cinta, mengucap satu nama

Seindah goresan sabda-Mu dalam kitabku

Cinta yang bertasbih, mengutus hati ini

Ku sandarkan hidup dan matiku pada-Mu

Bisikkan doaku dalam butiran tasbih

Kupanjatkan pintaku pada-Mu Maha Cinta

Sudah diubun-ubun cinta mengusik rasa

Tak bisa kupaksa walau hatiku menjerit

Ketika cinta bertasbih

Nadiku berdenyut merdu

Kembang kempis dadaku

Merangkai butir cinta

Garis tangan tergambar

Tak bisa aku menentang

Sujud syukur pada-Mu atas segala cinta…

– ‘Ketika Cinta Bertasbih’, by Melly Goeslaw –

———————————————————————————————————

Suka lirik lagu ini:) Mungkin karena di dalamnya ada porsi yang tepat untuk menempatkan cinta..

Teringat dengan sebuah kajian tentang memimpin perasaan.

Perasaan dipimpin? Ya, karena tak baik membiarkan hati kita terhanyut.

Karena sebenarnya semua rasa dalam hati kita adalah anugrah dari Allah..

Cinta, kasih sayang, benci, takut, jengkel, bahkan marah..

Apa jadinya jika di hati kita tidak ada perasaan kasih sayang?

Tentu, kita akan menjadi makhluk egois yang suka menyakiti hati orang lain tanpa alasan..

Apa jadinya jika di hati kita tidak ada perasaan marah?

Tentu, kita akan diam saja melihat semua bentuk kejahatan dan kedholiman, walaupun terjadi di depan mata kita..

Maka, semua perasaan adalah baik, tergantung bagaimana kita memimpinnya..

Memimpin marah agar tidak terlampiaskan berdasar nafsu.

Memimpin benci agar tidak membuta menilai sesuatu hingga rasa-rasanya menghilangkan kebaikan pada diri seseorang.

Pun demikian dengan memimpin cinta, agar tidak melampaui Cinta kepada-Nya..

‘Cinta yang bertasbih, mengutus hati ini

Ku sandarkan hidup dan matiku pada-Mu’

Maha Suci Allah yang memberikan rasa cinta..

Dan karena Dia-lah Pemilik Hati,

Maka, serahkan hati ini pada-Nya..

Melatih cinta pada ketaatan

dan mencintai apa yang di-CintaiNya..

‘Sudah diubun-ubun cinta mengusik rasa

Tak bisa kupaksa walau hatiku menjerit’

Betapa cinta tidak bisa dipaksa

Ia memang disadari..

Tapi muncul bukan atas kehendak diri

Semuanya anugrah..

Anugrah terkait dengan syukur

Bersyukur dengani mengarahkannya sesuai kehendak Allah..

‘Ketika cinta bertasbih

Nadiku berdenyut merdu

Kembang kempis dadaku

Merangkai butir cinta’

Merangkai untaian cinta kepada Allah,

Yang selalu membuat kita memuji-Nya

Adalah pembelajaran terus-menerus..

Dan tidak pernah berhenti

‘Garis tangan tergambar

Tak bisa aku menentang’

Memaknai takdir, artinya berdamai dengan perasaan

Adanya takut membuat kita berani

Adanya cemas membuat kita tenang

Adanya sedih membuat kita sabar

Adanya senang membuat kita syukur

Adanya benci membuat kita memaknai..

Ridho dengan apapun yang digariskan-Nya

Setelah kesungguhan ikhtiar dan kepasrahan tawakkal..

‘Sujud syukur pada-Mu, atas segala cinta..’

Betapa luas makna cinta..

Sungguh ajaib di hati kecil kita,

Terkandung bermacam cinta..

Cinta Allah, cinta Rasul, cinta ketaatan, cinta Al Qur’an, cinta kebenaran, cinta Islam..

Maupun cinta pada sesama manusia..

Nikmat terbesar adalah iman dan cinta pada Allah

Dan salah satu syukur terdalam,

Adalah menemukan cinta Allah,

Dalam kasih sayang orang-orang yang mengasihi kita..

“Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?”

(QS.Ar Rahman : 13)

Terbayang kita terlahir dulu lemah

Namun Allah menganugrahkan cinta kepada orangtua dan keluarga kita

Yang mengasihi kita tanpa mengharap balasan..

Tersadar kita dulu sendiri

Namun Allah menganugrahkan persaudaraan

Dalam cinta yang mengingatkan dalam kebenaran

Dan bukan menjerumuskan..

Jika selalu terasa cinta, dari orang-orang yang dikirimkan-Nya

Maka, bersyukur atas segala cinta adalah kemestian..

Yang tanpa izin-Nya, takkan mampu kita rasakan..

Hmm..

Telah kucoba menguraikan cinta,

Namun tetap ada ruang yang tersisa

Tidak terungkap oleh kata

Hanya terasa dan bermakna..

Allah, Ya Rahman..

Karuniakan kepada kami hati yang selamat,

Hati yang mencintai-Mu di atas segalanya..

Aamiin..

-16 Ramadhan 1431 H, 260810, mencoba berdamai dengan perasaan..-

Perenungan dan disarikan dari materi ‘Memimpin Perasaan’ oleh Ust. Syatori A., Pimpinan PP Muslimah Darush Shalihat, Yogyakarta





Back to Masjid..

17 08 2010

Mungkin aku bermimpi hari ini…

06.08.10. Sore itu menjelang Ashar, sedikit bergegas kususuri lapangan parkir FK UII yang cukup luas, menuju masjid Ulil Albab. Sudah adzan, dan sebentar lagi pasti iqomah. Tapi, ups..ada apa ini yah? Kok ramai sekali..:D Oh, i c..  Hari ini adalah hari pertama PESTA atau Pesona Ta’ruf buat mahasiswa-mahasiswa baru di UII.. Hmm, mungkin beratus2 kali ya pesertanya..^^ Beberapa pemandu tampak sibuk dengan toa untuk mengatur barisan agar tidak berbondong masuk ke masjid.

Dan ketika sampai masjid, kujumpai sesuatu yang tidak biasa. Pintu masjid sebenarnya ada 2, pintu utara dan selatan, dan seringnya pengunjung masjid akan lewat pintu utara, baik putri maupun putra. Pas akan masuk ke pintu utara, eh ‘diusir’ nih diminta lewat ke pintu selatan.. Wajar, karena akhirnya panitia dan takmir membagi menjadi dua pintu, yang utara untuk putra, yang selatan untuk putri. Kalo berdesak-desakan bisa gawat. Selintas kulayangkan pandangan ke tangga, udah crowded memang, penuh dgn mahasiswa putra yang menuju tangga dan menyusuri tangga (tempat sholat terletak di lantai 3). Ok deh, langsung menuju pintu selatan..

Dan.. sama crowdednya, hehe.. Mahasiswa2 putri sedikit berdesakan menaiki tangga menuju lantai tiga. Karena jama’ah shalat Ashar yang begitu banyak..panitia pertama2 mempersilakan jamaah putri untuk menggunakan lantai 4, sementara lantai 3 dikhususkan untuk jamaah putra (biasanya putra dan putri di lantai tiga semua). Setelah berwudhu, segera kubergabung ke barisan shaf.

Hmm:) Dan di sinilah kurasakan kesan itu..

Subhanallah, indahnya jama’ah bershaf-shaf.. Sebelumnya tak pernah seramai ini.. Ini pun baru shof putri. Kulirik lantai bawah, bershaf-shaf juga hingga shaf belakang.. Sedikit menghitung, satu shaf terdiri atas sekitar 30-40 orang, dan lebih dari 10 shaf di tiap lantai.. Luar biasa!

Biasanya, ketika berkesempatan shalat di masjid ini, hanya terlihat satu shaf putra, sementara yang putri pun tak beda. Itupun tidak penuh satu shaf. Dan sekarang berlipat-berlipat banyaknya…

Ketika Ashar ditunaikan berjama’ah, nuansanya sangat berbeda.. Sebelum shalat pun panitia masih sibuk mengatur barisan dan meminta jama’ah meluruskan shaf. Dan ketika setelah shalat ditunaikan, hal ini meninggalkan kesan yang sangat berharga..

Ya Allah, beginikah nuansa ketika kusaksikan begitu besarnya kekuatan kaum muslimin? Ya, ketika sekejap kusaksikan begitu banyak orang yang menegakkan shalat di masjid tepat pada waktunya. Seperti di Masjidil Haram, ketika semuanya berbondong-bondong hadir di rumah-Mu untuk memenuhi panggilan-Mu..

Boleh kan bermimpi? Karena kuimpikan ini terjadi setiap hari..

Ketika semua muslim yang mampu, terutama yang putra, dengan penuh kesadaran bersegera memenuhi panggilan Rabb-nya lima kali dalam sehari. Meninggalkan aktivitas dunia sesaat menuju masjid untuk bersegera menuju oase yang mampu kembali menyejukkan jiwa.. Ketika semua muslim, setelah menunaikan shalat, kembali ke aktivitas masing-masing untuk berikhtiar menjemput karunia-Nya, dan berjuang sebagai khalifah Allah di ranah masing-masing… Mereka yang tidak dilalaikan dengan jual beli dan permainan.. Subhanallah..

“… Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung. Dan apabila mereka melihat perniagaan atau permainan, mereka bubar untuk menuju kepadanya dan mereka tinggalkan kamu sedang berdiri (berkhotbah). Katakanlah: “Apa yang di sisi Allah lebih baik daripada permainan dan perniagaan”, dan Allah Sebaik-baik Pemberi rezeki.”

(QS. Al Jumu’ah : 10-11)

Namun sayang, hanya dua hari kumerasainya.. Ketika PESTA usai, semua kembali ‘normal’..

Hmm..

Semoga impian bukan hanya impian,

Melainkan sebuah do’a agar ini terjadi suatu saat nanti..

Ketika hari-hari biasa selalu terasa sebagai Ramadhan..

Karena begitu banyak muslim yang menegakkan shalat dan melantunkan ayat2 Al Qur’an di sudut-sudut masjid..

Karena semua begitu giat menuntut ilmu dan meramaikan kajian-kajian keIslaman di berbagai tempat..

Karena semua muslim kembali ke al Qur’an dan Sunnah,

Dan kembali ke masjid..!

Subhanallah.. Tak terkirakan kekuatan besar yang dapat dihasilkan..

Menuju kejayaan ummat Islam..

Maka teman, di sini aku berbagi..

Agar ini tidak hanya menjadi impianku,

Tapi juga impianmu,

Impian kita bersama..

Mari sejenak bercermin,

Mari berusaha mewujudkannya,

Walau mungkin tiap langkah kita masih tertatih..

Semoga Allah menguatkan dan selalu menunjukkan jalan-Nya..

Karena masing-masing langkah kecil kita akan menjadi langkah-langkah besar jika dilakukan bersama-sama..

” Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat. “

(QS. Hujurat : 10)

” Seorang mukmin terhadap mukmin (lainnya) bagaikan satu bangunan, satu sama lain saling menguatkan.”

(HR. Al Bukhari dan Muslim).

-7 Ramadhan 1431 H, 170810, mari syukuri kemerdekaan dengan berkarya di manapun, kapanpun, dan sebagai apapun kita..semua akan berarti:)-







Reminder..

25 07 2010

Bukan suatu kesia-siaan
Kembali menapak awal perjalanan
Saat memutuskan untuk melangkah
Saat diri ini yakin untuk terus meniti

Karena,
Ada niat yang harus terus dijaga
Ada cita-cita yang harus dibangun tinggi
Ada hikmah yang mungkin masih terserak
Maka, jangan biarkan tenggelam
Dalam waktu yang seolah berlari

Ingatlah selalu,
Untuk senandungkan syukur
Untuk mengiramakan sabar
Sebagai dua hal yang bermakna keajaiban

Tersenyum,
Menemukan lagi semangat
Menggenggam lagi mimpi-mimpi besar
Memantapkan langkah untuk berjalan

Hmm..:)

Selalu ada makna di tiap langkahnya
Semoga selalu dalam Ridho-Nya..

(250710)





Untuk Sahabat

8 07 2010

Sungguh, karena aku percaya tiap pertemuan dan perpisahan tidak ada yg bersifat kebetulan..
Pun, semenjak kita dipertemukan oleh Allah di kota tempat kita belajar, aku percaya Allah punya rencana..

Mengenalmu sahabat, adalah anugrah terindah dari-Nya..
Masa-masa kita bersama, adalah saat-saat terindah untuk dikenang..
Saat bersama belajar dan mengajar..
Saat bersama menuntut ilmu..
Memori itu akan tetap ada dan siap untuk selalu dimainkan..

Tak pernah mengira, setelah bertahun-tahun kita bersama..
Akhirnya kita berpisah.. Dengan ketidaktahuan,
Kapankah kiranya Allah mempertemukan kita kembali?
Berharap suatu saat kita bisa bertemu, bersama..
Ya, bersama-sama.. Semoga..
Suatu saat nanti atas Izin-Nya..

Masing-masing kita berjalan..
Menempuh perjalanan yang sama..
Bersama meniti jalan menuju keRidhoan-Nya..

Aku yakin sahabat..
Selama kita masih bersaudara dalam dien ini,
Sebenarnya kita dekat..
Jarak boleh memisahkan,
Namun hati-hati kita semoga tetap ditautkan dengan ikatan Kasih Sayang-Nya..

Ketika nanti kita lalui hidup..
Dewasa, menikah, berkeluarga, hingga tua nanti..insyaAllah..
Jangan pernah lupakan..

Ada sahabat di hati..
Walau tidak ada di sampingmu,
Kan selalu ada di hati..

Seketika semua memori akan terulang..
Dan semoga selalu kau temukan kehangatan
Saat mengenang saat-saat kita bersama..

Sahabat..
Selamat menempuh kehidupan..

Mari bersama meyakini, bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala,
Selalu memberikan apapun yang terbaik menurut-Nya untuk kita..:)

InsyaAllah, Janji-Nya selalu benar..

Semoga ikatan persaudaraan kita akan kekal hingga hari akhir nanti.. aamiin..

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
Allah berfirman pada Hari Kiamat, “Dimanakah orang-orang yang saling mencintai karena keagungan-Ku pada hari ini? Aku akan menaungi mereka dalam naungan-Ku pada hari yang tiada naungan kecuali naungan-Ku.”
(HR. Muslim; Shahih)

Dari Abu Muslim al-Khaulani radhiyallahu ‘anhu dari Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu, ia mengatakan: “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menceritakan dari Rabb-nya, dengan sabdanya, ‘Orang-orang yang bercinta karena Allah berada di atas mimbar-mimbar dari cahaya dalam naungan ‘Arsy pada hari yang tiada naungan kecuali naungan-Nya.”

Abu Muslim radhiyallahu ‘anhu melanjutkan,
“Kemudian aku keluar hingga bertemu ‘Ubadah bin ash-Shamit, lalu aku menyebutkan kepadanya hadits Mu’adz bin Jabal. Maka ia mengatakan, ‘Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menceritakan dari Rabb-nya, yang berfirman,
‘Cinta-Ku berhak untuk orang-orang yang saling mencintai karena-Ku, cinta-Ku berhak untuk orang-orang yang saling tolong-menolong karena-Ku, dan cinta-Ku berhak untuk orang-orang yang saling berkunjung karena-Ku.’
Orang-orang yang bercinta karena Allah berada di atas mimbar-mimbar dari cahaya dalam naungan ‘Arsy pada hari tiada naungan kecuali naungan-Nya.”
(HR. Ahmad; Shahih dengan berbagai jalan periwayatannya)

-080710, ditulis setelah mendengar kabar bahagia dari seorang sahabat..dan seketika semua memori itu kembali..:)
Teriring do’a : Baarokallahu laka wa baaroka ‘alayka wa jama’a bainakumaa fii khoyr..

Sahabat2ku, aku sayang kalian semua..Miss u all T.T-